Musik Daerah Cirebon
Sebelum adanya aturan nada, bangsa kita jaman dahulu sudah mengenal
musik yang berfungsi untuk upaca pemujaan terhadap nenek moyang, kemudian
mengenal musik yag terdiri dari 5 nada yang disebut Pentatonis, yaitu: Da, Mi,
Na, Ti, La, Da. Nada pentatonis ini hanya dapat pada alat musih daerah yang
disebut Gambelan, yang terdiri dari: goong, gender, kendang, kenong, saron,
gambang, bonang, rebab, dll. Alat musik gambelan ini terutama terdapt di Jawa dan
Bali. Akhirnya sejalan dengan perkembangan jaman, maka musik – musik
daerah yang ada hingga sekarang menggunakan notasi – notasi musik umum yaitu
notasi angka atau balok. Tokoh – tokoh musik Gending / Karawitan daerah Jawa
Barat yang terkenal adalah Mang Koko, Amas Taswara, Nano S, dan lain – lain.
Beberapa kesenian musik daerah Cirebon sebagai berikut :
1.
Rampak
Kendang
Rampak Kendang adalah salah satu kreasi musik
tradional yang dimainkan bersama-sama oleh sekitar dua sampai puluhan pemain.
Ditabuh secara bersamaan sesuai musik yang dilantunkan. Tabuhannya memiliki
efek suara yang keras sehingga menimbulkan perhatian para penonton.
Dalam Rampak Kendang, instrumennya tidak hanya
kendang saja, tapi dapat divariasikan dengan alat-alat lainnya, seperti : alat
gamelan, Rebab, gitar, dlsb.
Dalam memainkannya, dapat berdiri sendiri,
artinya dari rampak kendang itulah membentuk lantunan lagu sendiri, atau
sebagai pengiring dari suatu tari Jaipongan.
Dalam seni pertunjukan, Seni Rampak Kendang
telah diterima sebagai salah satu seni kreasi dan telah dipertunjukan pada acara-acara
resmi, baik dilingkup Pemerintahan, lingkup swasta maupun masyarakat umum.
Ø RAMPAK KENDANG
|
keunikan
|
Dalam Rampak Kendang, instrumennya tidak
hanya kendang saja, tapi dapat divariasikan dengan alat-alat lainnya, seperti
: alat gamelan, Rebab, gitar, dlsb.
|
|
tokoh
|
|
|
sejarah
|
Dalam seni pertunjukan, Seni Rampak Kendang
telah diterima sebagai salah satu seni kreasi dan telah dipertunjukan pada
acara-acara resmi, baik dilingkup Pemerintahan, lingkup swasta maupun
masyarakat umum.
|
2.
Gembyung
salah satu peninggalan budaya Islam di Cirebon
adalah Seni Gembyung. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang
yang hidup di lingkungan pesantren. Konon kesenian terbang itu salahsatu jenis
kesenian yang dipakai sebagai media penyebaran Agama Islam di daerah Cirebon
dan sekitarnya. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara
kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1
Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Entah siapa yang punya ide untuk
mengembangkan seni terbang ini dan kapan. Yang jelas kesenian Gembyung muncul
di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut.
Gembyung adalah ensambel musik yang terdiri dari beberapa
waditra terbang dengan tarompet yang merupakan jenis kesenian bernafaskan
Islam. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan
beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet.
Setelah berkembang menjadi Gembyung, tidak
hanya dipertunjukkan di lingkungan pesantren atau tempat-tempat ibadah agama
Islam, tetapi dipertunjukkan juga di lingkungan masyarakat luas. Bahkan
frekuensi pertunjukannya cenderung lebih banyak di lingkungan masyarakat.
Demikian juga tidak hanya dipertunjukan dalam acara-acara keagamaan (Islam), tetapi
juga dalam acara kelahiran bayi, khitanan, perkawinan dan upacara siklus alam
seperti ngaruat bumi, minta hujan, mapag Dewi Sri, dsb. Pada perkembangan lebih
lanjut, Gembyung tidak hanya sebagai seni auditif, tapi sudah menjadi seni
pertunjukan yang melibatkan unsur seni lain seperti seni tari.
Di beberapa daerah wilayah Cirebon, kesenian
Gembyung telah dipengaruhi oleh seni tarling dan jaipongan. Hal ini tampak dari
lagu-lagu Tarling dan Jaipongan yang sering dibawakan pada pertunjukan
Gembyung. Kecuali Gembyung yang ada di daerah Argasunya, menurut catatan Abun
Abu Haer, seorang pemerhati Gembyung Cirebon sampai saat ini masih dalam
konteks seni yang kental dengan unsure keislamannya. Ini menunjukkan masih ada
kesenian Gembyung yang berada di daerah Cirebon yang tidak terpengaruh oleh
perkembangan masyarakat pendukungnya. Kesenian Gembyung seperti ini dapat
ditemukan di daearah Cibogo, Kopiluhur, dan Kampung Benda, Cirebon. Orang-orang yang berjasa dalam
mempertahankannya adalah Musa, Rasyim, dan Karya.
Alat musik kesenian Gembyung Cirebon ini adalah 4 buah
kempling (kempling siji, kempling loro, kempling telu dan kempling papat),
Bangker dan Kendang. Lagu-lagu yang disajikan pada pertunjukan Gembyung
tersebut antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi dan Salawat Badar.
Busana yang dipergunakan oleh para pemain kesenian ini adalah busana yang biasa
dipakai untuk ibadah shalat seperti memakai kopeah (peci), Baju Kampret atau
kemeja putih, dan kain sarung.
Ø GEMBYUNG
|
Keunikan
|
Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan
pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi,
Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah.
|
|
Tokoh
|
peninggalan budaya Islam di Cirebon
|
|
sejarah
|
Salah satu peninggalan budaya Islam di
Cirebon adalah Seni Gembyung. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian
Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon kesenian terbang itu
salahsatu jenis kesenian yang dipakai sebagai media penyebaran Agama Islam di
daerah Cirebon dan sekitarnya. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan
pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi,
Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Entah
siapa yang punya ide untuk mengembangkan seni terbang ini dan kapan. Yang
jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang
hidup cukup lama di daerah tersebut.
|
3.
Tari
Digenjring Bonyok
Kesenian genjring Bonyok memiliki corak
kehidupan dan perkembangan yang agak berbeda dengan kesenian lain yang tumbuh
dan berkembang di Kecamatan Pagaden kabupaten Subang. Kesenian mampu berkembang
lebih cepat, mendapat popularitas lebih cepat dan diterima oleh masyarakat
sebagai kesenian tradisional miliknya sendiri yang dapat dinikmati.
Pengertian Genjring Bonyok asal mula dari
Genjring dan Bonyok. Genjring adalah waditra berkulit yang memakai semacam
anting-anting terbuat dari besi atau perunggu sebagai penghias seperti rebana.
Sedangkan Bonyok adalah nama daerah di desa Pangsor Kecamatan Pagaden Kabupaten
Subang. Genjring bonyok artinya kesenian Genjring yang awal mulanya berada di
daerah Bonyok. Kesenian merupakan salahsatu jenis seni musik tradisional
(karawitan) yang alat musiknya terdiri dari Genjring, Bedug, Kecrek, Tarompet
dan Goong.
Pertumbuhan dan perkembangan kesenian ini tidak
lepas dari keadaan lingkungan masyarakat penduduknya. Maksudnya semakin
meningkat kehidupan masyarakat, pengalaman estetis masyarakat dan semakin
banyak munculnya pemahaman-pemahaman baru tentang Genjring Bonyok akan berpengaruh
besar terhadap eksistensi kesenian tersebut. Jauh sebelum Genjring bonyok
lahir, di kampung Bunut Desa Pangsor Kecamatan pagaden telah ada kesenian
genjring yang dipimpin oleh Sajen. Kesenian merupakan cikal bakal lahirnya
Genjring Bonyok.
Keberadaan Genjring Bonyok erat hubungannya
dengan perjalanan hidup Sutarja yang telah bermain dengan Genjring sejak tahun
1963. Waktu itu ia bermain genjring bersama rombongan Genjring yang dipimpin
oleh Sajen (pamannya). Dalam rombongan tersebut ia memegang genjring nomor 1
yang merupakan komando bagi alat musik lainnya. Karena Sajen sudah tidak
sanggup lagi untuk memimpin rombongan kesenian tersebut, maka sejak tahun 1965
kepemimpinan rombongan kesenian tersebut diserahkan kepada Sutarja.
Sutarja dan kawan-kawan sering mengadakan pertunjukan di
Pusaka Nagara dan pamanukan. Di daerah tersebut Sutarja sering melihat
pertunjukan Adem ayem yang perangkat musiknya sama dengan kesenian genjring
yang dipimpin oleh Sutarja yaitu tiga buah genjring dan sebuah bedug. Perbedannya
musik adem Ayem yang lebih dinamis dan komunikatif dengan menyajikan lagu-lagu
untuk mengiringi tarian dan atraksi akrobatik, sedangkan pertunjukan kesenian
yang dipimpin oleh Sutarja waktu itu hanya menyajikan lagu-lagu seperti Siuh,
Gederan dan Gotrok.
Terinspirasi oleh musik adem ayem tersebut muncul
keinginan Sutarja untuk mengembangkan seni genjring yang dipimpinnya. Disusunlah motif-motif tabuh genjring yang mirip dengan
genjring adem ayem. Demikian juga lagu-lagu yang disajikannya dipakai lagu-lagu
Adem ayem dan tarompet sebagai pembawa melodi dan goong sebagai pengantar
wiletan. Sekitar tahun 1968,
terbentuklah kesenian genjring Baru dengan garapan musikalnya berbeda dengan
genjring sebelumnya. Menurut keterangan beberapa narasumber, pada awalnya
masyarakat Pagaden menyebut kesenian ini genjring Bonyok. Disebut demikian
karena dalam pementasan penarinya selalu banyak dan dalam menarinya ngaronyok
(berkumpul). Dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang menyebut kesenian
Genjring Bonyok karena menganggap kesenian tersebut lahir di daerah Bonyok.
Baru-baru ini muncul sebutan yang lain yaitu Tardug. Tardug merupakan akronim
dari Gitar dan beduh. Kesenian tardug sebenarnya
genjring bonyok juga, hanya alat musiknya ditambah gitar melodi untuk mengiringi
lagu dangdutan.
Di awal perkembangannya Genjring Bonyok
menggunakan alat musik yang relatif sederhana yaitu tiga buah genjring,
tarompet dan bedug. Ketiga genjring tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang
sama. Perbedaannya hanya tinggi rendahnya bunyi genjring tersebut.
Bunyi yang dihasilkan genjring biasanya bunyi
pong, pang, ping dan bunyi pak bum. Untuk menghasilkan bunyi pong dengan cara
menepak bagian pinggir genjring menggunakan beberapa ujung jari tangan dan
menepuknya dilepas. Bunyi pang dihasilkan dengan cara menepuk bagian pinggir
genjring (lebih ketengah sedikit dari cara membunyikan pong) menggunakan
sebagian telapak tangan dan menepuknya dilepas. Bunyi ping dihasilkan dengan
cara menepuk bibir genjring menggunakan beberapa ujung jari tangan menepuknya
dirapatkan. Bunyi pak dihasilkan dengan cara menepuk bagian pinggir atau tengah
genjring menggunakan telapak tangan penuh, menepuknya agak ditekan.
Materi lagu yang disajikan dalam pertunjukan
genjring bonyok tidak terbatas pada lagu-lagu ketuk tilu, adem ayem atau
lagu-lagu yang berirama japlin saja tetapi juga disajikan lagu-lagu dangdut
seperti lagu-lagu Lanang Sejati, Rindu berat, Neng Yeni, Pemuda Idaman, tembok
Derita dan lain-lain. Selain itu sering disajikan pula lagu-lagu jaipongan.
Lagu-lagu tersebut disajikan dalam bentuk paduan antara karawitan, vokal dan
karawitan instrumentalia. Dalam bentuk penyajiannya, kesenian ini tidak hanya
dipertunjukan dalam bentuk helaran (arak-arakan) tetapi dipertunjukkan juga
diatas panggung. Pertunjukan diatas panggung biasanya dilaksanakan pada acara
hiburan, baik hiburan hajatan, peringatan hari-hari besar, maupun hiburan di
tempat-tempat wisata. Pertunjukan gelaran biasanya pada acara mengarak anak
sunat keliling kampung bersama-sama dengan kesenian sisingaan.
Ø genjring Bonyok
|
Keunikan
|
Kesenian genjring Bonyok memiliki corak
kehidupan dan perkembangan yang agak berbeda dengan kesenian lain yang tumbuh
dan berkembang di Kecamatan Pagaden kabupaten Subang. Kesenian mampu
berkembang lebih cepat, mendapat popularitas lebih cepat dan diterima oleh
masyarakat sebagai kesenian tradisional miliknya sendiri yang dapat
dinikmati.
|
|
Tokoh
|
|
|
sejarah
|
Pengertian Genjring Bonyok asal mula dari
Genjring dan Bonyok. Genjring adalah waditra berkulit yang memakai semacam
anting-anting terbuat dari besi atau perunggu sebagai penghias seperti
rebana. Sedangkan Bonyok adalah nama daerah di desa Pangsor Kecamatan Pagaden
Kabupaten Subang. Genjring bonyok artinya kesenian Genjring yang awal mulanya
berada di daerah Bonyok. Kesenian merupakan salahsatu jenis seni musik
tradisional (karawitan) yang alat musiknya terdiri dari Genjring, Bedug,
Kecrek, Tarompet dan Goong.
|
4.
seni
Buhun Tutulungan
Kesenian tradisional "Tutunggulan" sering disamakan dengan
kesenian gondang, padahal pada pelaksanaannya berbeda karena kalau tutunggulan
tidak diikuti dengan lagu-lagu atau pantun yang bersaut-sautan sedangkan
gondang menggunakan lagu dan sisindiran. Namun alat dan sarana yang digunakannya
sama yaitu alu dan lisung.
Kata tutunggulan berasal dari kata "nutu" yang artinya "menumbuk" sesuatu. Sesuatu yang ditumbuk itu biasanya gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Menumbuk gabah menjadi beras tersebut biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara tiga sampai empat orang dan ayunan alunya mengenai lesung yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama, dengan tujuan agar tidak membosankan dalam menumbuk padi. Ini dilakukan hingga pekerjaan selesai.
Dari kebiasaan itulah akhirnya muncul seni tutunggulan hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan alunya kepada lesung. Dari ayunan alu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya. Konon khabarnya lagu-lagu yang ke luar dari tutunggulan ini adalah seperti; lutung loncat, oray belang, caang bulan dll. Tiap kelompok memiliki jenis lagu tersendiri.
Kesenian tutunggulan dimainkan oleh enam orang ibu-ibu dan dipertunjukkan kepada masyarakat manakala terjadinya ¿samagaha¿ atau disebut gerhana bulan di malam hari ataupun sering digunakan untuk menghadirkan warga agar hadir dalam acara musyawarah di balai desa. Belakangan, seni tradisional ini digunakan untuk menyambut tamu pada suatu upacara tertentu, biasanya upacara peresmian proyek, penyambutan tamu, dll.
Dari mana asalnya seni buhun tutunggulan ini ? Adalah masyarakat Desa Wanayasa Kec. Wanayasa Kab. Purwakarta menjadi cikal bakal munculnya seni buhun Tutunggulan. Dan saat ini terdapat tiga kelompok pemain seni tutunggulan yang kesemuanya sudah berusia lanjut. Untuk mempertahankan kelestarian kesenian ini, Kantor Disbudpar Kab. Purwakarta sedang mengadakan regenerasi melalui upaya ajakan terhadap anak muda dan melalui pelatihan-pelatihan di tempat terutama ditujukan kepada masyarakat di sekitar Desa Wanayasa, serta diadakannya lomba Seni Tutunggulan setiap tahunnya dengan melibatkan kecamatan-kecamatan lainnya. Upaya ini dimaksudkan untuk mengembangkan kelompok pelaku seni tutunggulan hingga akhirnya merata di Kabupaten Purwakarta.
Kata tutunggulan berasal dari kata "nutu" yang artinya "menumbuk" sesuatu. Sesuatu yang ditumbuk itu biasanya gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Menumbuk gabah menjadi beras tersebut biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara tiga sampai empat orang dan ayunan alunya mengenai lesung yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama, dengan tujuan agar tidak membosankan dalam menumbuk padi. Ini dilakukan hingga pekerjaan selesai.
Dari kebiasaan itulah akhirnya muncul seni tutunggulan hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan alunya kepada lesung. Dari ayunan alu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya. Konon khabarnya lagu-lagu yang ke luar dari tutunggulan ini adalah seperti; lutung loncat, oray belang, caang bulan dll. Tiap kelompok memiliki jenis lagu tersendiri.
Kesenian tutunggulan dimainkan oleh enam orang ibu-ibu dan dipertunjukkan kepada masyarakat manakala terjadinya ¿samagaha¿ atau disebut gerhana bulan di malam hari ataupun sering digunakan untuk menghadirkan warga agar hadir dalam acara musyawarah di balai desa. Belakangan, seni tradisional ini digunakan untuk menyambut tamu pada suatu upacara tertentu, biasanya upacara peresmian proyek, penyambutan tamu, dll.
Dari mana asalnya seni buhun tutunggulan ini ? Adalah masyarakat Desa Wanayasa Kec. Wanayasa Kab. Purwakarta menjadi cikal bakal munculnya seni buhun Tutunggulan. Dan saat ini terdapat tiga kelompok pemain seni tutunggulan yang kesemuanya sudah berusia lanjut. Untuk mempertahankan kelestarian kesenian ini, Kantor Disbudpar Kab. Purwakarta sedang mengadakan regenerasi melalui upaya ajakan terhadap anak muda dan melalui pelatihan-pelatihan di tempat terutama ditujukan kepada masyarakat di sekitar Desa Wanayasa, serta diadakannya lomba Seni Tutunggulan setiap tahunnya dengan melibatkan kecamatan-kecamatan lainnya. Upaya ini dimaksudkan untuk mengembangkan kelompok pelaku seni tutunggulan hingga akhirnya merata di Kabupaten Purwakarta.
Ø Buhun Tutulungan
|
Keunikan
|
Menumbuk gabah menjadi beras tersebut
biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara tiga sampai empat orang dan ayunan
alunya mengenai lesung yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama,
dengan tujuan agar tidak membosankan dalam menumbuk padi. Ini dilakukan
hingga pekerjaan selesai.
Dari kebiasaan itulah akhirnya muncul seni tutunggulan hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan alunya kepada lesung. Dari ayunan alu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya. Konon khabarnya lagu-lagu yang ke luar dari tutunggulan ini adalah seperti; lutung loncat, oray belang, caang bulan dll. Tiap kelompok memiliki jenis lagu tersendiri. |
|
Tokoh
|
|
|
sejarah
|
Kata tutunggulan berasal dari kata
"nutu" yang artinya "menumbuk" sesuatu. Sesuatu yang
ditumbuk itu biasanya gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras
menjadi tepung. Menumbuk gabah menjadi beras tersebut biasanya dikerjakan
oleh ibu-ibu antara tiga sampai empat orang dan ayunan alunya mengenai lesung
yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama, dengan tujuan agar tidak
membosankan dalam menumbuk padi. Ini dilakukan hingga pekerjaan selesai
|
5.
Rengkong
Rengkong
adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat
Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang
pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian
ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi
sampai dengan menuainya.
Istilah rengkong diambil dari nama
sebuah alat untuk memikul padi dari sawah. Alat ini terbuat dari bamboo jenis
¿gombong¿ dan untuk mengikat padinya menggunakan tali injuk. Kalau dibawa sambil
memikul padi dapat menghasilkan suara akibat gesekan tali injuk dengan bamboo.
Konon kabarnya bunyi suara dari alat tersebut menarik untuk diperdengarkan
sehingga menjadi ide untuk dibuat suatu pertunjukan.
Perlengkapan seni rengkong yang digunakan
untuk suatu pertunjukan terdiri dari, bamboo gombong, umbul-umbul, tali injuk
dan satu himpunan tangkai padi seberat 10 kg. Pemainnya menggunakan busana yang
terdiri dari : baju kampret, celana pangsi, ikat kepala dan tidak menggunakan
alas kaki.
Seni tradisional ini biasanya dilakukan
pada waktu upacara memanen padi namun lambat laun sering digunakan pada waktu
yang lain seperti ; menyambut kedatangan tamu atau upacara peringatan hari
besar nasional. Jumlah pemainnya antar 5 sd. 6 orang dan pertunjukannya selalu
dialam terbuka dengan lama waktu sekitar satu jam.
Di era globalisasi dan digitalisasi
sekarang ini kesenian rengkong hampir tidak berkembang dan itupun agak susah
untuk ditemui. Kecuali harus dicari dan dikumpulkan terlebih dahulu karena pemainnya
sudah langka dan biasanya generasi lanjut usia. Generasi muda sekarang umumnya tidak menyukai kesenian ini,
karenanya sulit membangun regenerasinya.
Ø rengkong
|
Keunikan
|
Seni tradisional ini
biasanya dilakukan pada waktu upacara memanen padi
|
|
Tokoh
|
H. Sopjan
|
|
sejarah
|
Istilah rengkong diambil
dari nama sebuah alat untuk memikul padi dari sawah. Alat ini terbuat dari
bamboo jenis ¿gombong¿ dan untuk mengikat padinya menggunakan tali injuk.
Kalau dibawa sambil memikul padi dapat menghasilkan suara akibat gesekan tali
injuk dengan bamboo. Konon kabarnya bunyi suara dari alat tersebut menarik
untuk diperdengarkan sehingga menjadi ide untuk dibuat suatu
pertunjukan.
|
Fungsi musik daerah CIREBON, yaitu:
1. Berfungsi Untuk Upacara adat, contohnya:
v Angklung, di masyarakat Banten digunakan dalam upacara
menabur benih di ladang untuk menghormati Dewi Pohaci/Dewi Sri. Selain itu
Angklung juga digunakan untuk upacara Helaran (upacara menggiring anak yang
dikhitan)
v Bedug, digunakan dalam upacara kegiatan Agama Islam, seperti
seni bedug Kidulan dari Cianjur yang dilaksanakan setiap takbiran, dan adu
bedug dari Pandeglang yang dilaksanakan sehari setelah Idul Fitri
v Bengberokan, berasal dari Cirebon yang dipergunakan dalam
upacara mengusir roh jahat atau menyembuhkan anak yang sakit
v Calung, dipergunakan dalam upacara adat pertanian, seperti
Calung Tarawangsa dari Tasikmalaya
v Heleran, dipergunakan dalam upacara adat khitanan atau
seserahan pengantin, seperti Kuda Renggong, dari Sumedang dan Tajidor dari
Tangerang
v Ngagondang, dipergunakan dalam upacara adat Mapag Sri/Dewi
padi
v Pantun, dipergunakan dalam upacara adat akan menyimpan padi
di lumbung yang disebut ngidepkeun/ natapkeun para
4. Musik yang berfungsi sebagai alat Bela Diri, contohnya:
v Pencak Silat dan
v Benjang
3. Musik yang berfungsi sebagai sarana hiburan, contohnya:
v Ogel,
v Ronggeng,
v Angklung diatonis,
v Longser,
v Angklung Buncis,
v Tarling.
No comments:
Post a Comment